Pages

Insan Cerdas Bermartabat

INSAN CERDAS BERMARTABAT http://icb14.com Online Book and E-Book Shop.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

17 Juni, 2008

Unduh BSE SMA

Sebelum anda mendownload buku
download terlebih dahulu WINZIP untuk membuka file yang akan anda download
donload WINZIP DISINI

BUKU BAHASA INDONESIA SMA

klik tombol UNDUH BSE DISINI untuk mengunduh (MENDOWNLOAD)



SMA KELAS X UMUM

B Indo X SMA UMUM AGUS SETIYONO


B Indo X SMA UMUM ERWAN


B Indo X SMA UMUM INDRAWATI


B Indo X SMA UMUM KUSNADI


B Indo X SMA UMUM SYAMSUDIN


B Indo X SMA UMUM SRI UTAMI




SMA KELAS XI IPA DAN IPS


B Indo XI SMA IPA DAN IPS EUIS SULASTRI


B Indo XI SMA IPA DAN IPS DEMAS


B Indo XI SMA IPA DAN IPS INDRA


B Indo XI SMA IPA DAN IPS E. KUSNADI


B Indo XI SMA IPA DAN IPS NURITA




SMA KELAS XI BAHASA

B Indo XI SMA BAHASA DEMAS


B Indo XI SMA BAHASA ERWAN


B Indo XI SMA BAHASA GUNAWAN


B Indo XI SMA BAHASA INDRA


B Indo XI SMA BAHASA NURITA


B Indo XI SMA BAHASA SUNARDI


B Indo XI SMA BAHASA SYAM




SMA KELAS XII IPA dan IPS

B Indo XII SMA IPA dan IPS MUH ROHMADI


B Indo XII SMA IPA dan IPS AGUS


B Indo XII SMA IPA dan IPS DEMAS


B Indo XII SMA IPA dan IPS NUR




SMA KELAS XII BAHASA

B Indo XII SMA BAHASA ERWAN


B Indo XII SMA BAHASA NUR


B Indo XII SMA BAHASA DEMAS


B Indo XII SMA BAHASA MUH ROHMADI

Unduh BSE SMK

Sebelum anda mendownload buku
download terlebih dahulu WINZIP untuk membuka file yang akan anda download
donload WINZIP DISINI

BUKU BAHASA INDONESIA SMK

klik tombol DOWNLOAD BUKU untuk mengunduh (MENDOWNLOAD)

Bindo SMK-X Jarot


Bhs-Sastra SMK-X Maemunah


BBI SMK X Hendrian


B & S Indonesia 2 Kls XI SMK Marthasari


B Indonesia 2 Kls XI SMK Mokhamad Irman


Kom B Indonesia Kls XII SMK Nani Darmayanti


B & S Indonesia Kls XII SMK Siswasih


B Indonesia 3 Kls XII SMK Mokhamad Irman

03 Juni, 2008

Memilih Buku Teks Pelajaran Berstandar

Oleh: Dr. H. Suherli, M.Pd.

A. Pendahuluan
Kegiatan memilih buku teks pelajaran merupakan salah satu tugas pendidik. Pilihan ini selanjutnya diusulkan kepada kepala sekolah untuk ditetapkan penggunaannya di satuan pendidikan tempat ia bekerja. Kekuatan penetapan ini paling singkat untuk kurun waktu lima tahun. Penetapan buku teks ini perlu diketahui oleh peserta didik agar ia dan orangtua atau wali siswa yang ingin memilikinya dapat mencari buku tersebut di toko buku. Penetapan itu dapat dimanfaatkan pula jika ada pihak lain yang bermaksud baik untuk membantu penyediaan buku teks di perpustakaan sekolah.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 43 mensyaratkan bahwa ”Jumlah buku teks pelajaran di perpustakaan dinyatakan dalam rasio minimal jumlah buku teks pelajaran untuk masing-masing mata pelajaran di perpustakaan satuan pendidikan untuk setiap peserta didik” (Pusat Data dan Informasi Balibang Depdiknas, 2005). Hal ini berarti bahwa kepemilikan buku teks pelajaran harus mencapai rasio 1:1, atau satu buku teks pelajaran diperuntukkan bagi seorang peserta didik. Namun demikian, buku teks pelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah harus memiliki kebenaran isi, penyajian yang sistematis, penggunaan bahasa dan keterbacaan yang baik, dan grafika yang fungsional. Kelayakan ini ditentukan oleh penilaian yang dilakukan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2007 telah menetapkan buku teks pelajaran yang memenuhi standar kelayakan. Pada tahun 2008 BSNP menilai buku teks pelajaran yang memiliki kelayakan atau memenuhi standar nasional.
Uraian di atas sejalan dengan Permendiknas Nomor 2 tahun 2008, yang menyatakan bahwa satuan pendidikan dasar dan menangah harus menetapkan masa pakai buku teks pelajaran yang akan digunakan di sekolah itu minimal untuk kurun waktu lima tahun. Selain itu, sekolah wajib menyediakan buku teks pelajaran di perpustakaan yang dipilih dari buku-buku teks yang memenuhi standar nasional. Penetapan ini ditempuh melalui suatu proses pemilihan yang dilakukan oleh rapat pendidik. Setiap pendidik menganjurkan kepada semua peserta didik untuk meminjam buku teks pelajaran tersebut di perpustakaan atau memilikinya. Peserta didik yang berkeinginan untuk memiliki buku teks pelajaran dapat membelinya langsung ke pengecer atau ke toko buku. Namun, ketersediaan toko buku tidak merata ke daerah-daerah sehingga pada beberapa tempat, peserta didik dan orangtua atau wali murid mengalami kesulitan untuk mendapatkan dan memiliki buku berstandar nasional.
Untuk menyediakan buku teks pelajaran sebagaimana ketentuan tersebut atau menentukan buku teks pelajaran yang ditetapkan penggunaannya di suatu sekolah diperlukan kemampuan pendidik dalam memilih secara cermat buku-buku teks pelajaran yang telah ditetapkan sebagai buku berstandar nasional. Sekolah harus menetapkan buku teks pelajaran yang akan digunakan, sehingga diperlukan kemampuan pendidik dalam memilih buku teks pelajaran berstandar nasional yang sesuai dengan karakteristik daerah dan peserta didik. Oleh karena itu, diperlukan suatu pedoman yang dapat membantu para pendidik dalam memilih buku teks pelajaran yang sesuai untuk digunakan dalam proses pembelajaran di satuan pendidikan tempatnya bekerja.

B. Tujuan dan Sasaran
Dalam penyediaan sarana pendidikan, khususnya buku teks pelajaran, pemerintah selain menetapkan buku-buku yang memenuhi standar nasional juga membeli hak cipta buku dari pemiliknya untuk memfasilitasi ketersediaan buku dengan harga yang terjangkau. Buku teks pelajaran yang digunakan di sekolah harus telah ditetapkan sebagai buku berstandar nasional melalui penilaian kelayakan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri. Dari hal ini akan terdapat banyak sekali buku teks yang ditetapkan sebagai buku berstandar nasional, sehingga sekolah harus memilih buku-buku tersebut. Oleh karena itu pedoman ini disusun dengan tujuan:
(1) Memberikan tuntunan bagi para pendidik dalam memilih buku teks pelajaran berstandar nasional yang memiliki kesesuaian dengan kondisi suatu daerah dan kondisi peserta didik;
(2) Memberikan rambu-rambu kepada para pendidik dalam mememilih buku teks pelajaran yang akan diusulkan untuk ditetapkan penggunaannya di sekolah;
(3) Memberikan pedoman praktis bagi para pendidik dalam memilih buku-buku teks berstandar nasional yang akan disediakan di perpustakaan kelas atau perpustakaan sekolah.

Sasaran penyusunan pedoman pemilihan buku teks pelajaran ini adalah para pendidik. Pedoman ini disusun untuk bahan pelatihan bagi para pendidik yang akan ditetapkan sebagai instruktur dalam penentuan buku teks yang akan disediakan di perpustakaan kelas atau perpustakaan sekolah. Namun demikian, pedoman ini dapat digunakan pula oleh komite sekolah dalam ikut membantu melakukan pengawasan pemilihan dan penggunaan buku teks pelajaran di satuan pendidikan dasar dan menengah. Pedoman ini dapat pula digunakan oleh orangtua dalam membantu anaknya memiliki buku teks pelajaran.


C. Buku Teks Pelajaran
Buku teks pelajaran (textbook) adalah buku acuan wajib untuk digunakan di sekolah yang memuat materi pembelajaran dalam rangka meningkatkan keimanan, ketakwaan, ahlak mulia, dan kepribadian, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, peningkatan kepekaan dan kemampuan estetis, peningkatan kemampuan kinestetis dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 2008 Pasal 1 ayat 3). Buku teks pelajaran itu tidak habis sekali pakai, yang menjadi barang bekas setelah dipelajari. Buku teks pelajaran harus dapat dipakai berulang-ulang, baik oleh siswa yang sama maupun oleh siswa yang lain. Artinya, buku teks pelajaran dibedakan dari buku penunjang pelajaran yang lain, seperti buku kerja siswa, buku kumpulan tugas atau soal, dan sebagainya yang habis sekali pakai.
Buku teks pelajaran menyediakan materi yang tersusun untuk keperluan pembelajaran peserta didik. Peristiwa pembelajaran terjadi dalam kegiatan interaksi dan komunikasi antarsiswa yang terjadi dalam kegiatan belajar dengan buku yang di dalamnya tersedia bahan untuk dipelajari, baik dengan cara diindra, dipikirkan, dirasakan, diimajinasikan, atau dilakukan. Buku teks pelajaran menyediakan bahan yang sudah dipersiapkan, dipilih, dan ditentukan cakupan dan urutannya sehingga memberikan kemudahan bagai peserta didik yang sedang belajar.
Buku teks pelajaran dan pembelajaran merupakan dua hal yang saling melengkapi. Pembelajaran akan berlangsung secara efektif jika dilengkapi dengan buku teks pelajaran. Buku teks pelajaran dapat disusun serta digunakan dengan baik jika prinsip-prinsip pembelajaran diperhatikan. Di dalam pembelajaran terdapat siswa, guru, materi, proses, serta penilaian. Komponen itu harus tercermin pula melalui buku teks pelajaran. Komponen itu kemudian diolah sehingga buku teks pelajaran berisi kesatuan materi bahan ajar, cara penyajian materi bahan ajar, contoh, serta latihan agar memberi kemudahan untuk dipahami dan dipraktikkan, baik oleh siswa maupun guru.
Buku teks pelajaran tidak hanya berisi kumpulan materi yang harus dihapalkan, melainkan harus menyajikan materi yang dapat men-stimulus peserta didik untuk berpikir lebih luas, kreatif, dan reflektif. Dalam buku teks pelajaran, materi bahan ajar harus disajikan dengan cara tertentu agar peserta didik beroleh pengalaman berkenaan dengan pemahaman, keterampilan, dan perasaan. Oleh karena itu buku teks pelajaran berisi latihan yang menyajikan persoalan-persoalan yang harus dipecahkan.
Buku teks pelajaran dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pembelajaran sehingga guru terbantu dalam mengajarkan dan menakar kemampuan peserta didik atas materi yang dipelajarinya. Buku teks pelajaran dapat dipandang sebagai sumber pengetahuan tentang berbagai segi kehidupan. Oleh karena sudah dipersiapkan dari segi kelengkapan dan penyajiannya, buku teks pelajaran itu memberikan fasilitas bagi kegiatan belajar mandiri, baik tentang substansinya maupun tentang caranya. Dengan demikian, penggunaan buku teks pelajaran oleh peserta didik merupakan bagian dari pengembangan budaya baca, sebagai salah satu indikator suatu masyarakat yang maju.
Dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran, buku teks pelajaran mempunyai peran penting. Jika tujuan pembelajaran adalah untuk menjadikan peserta didik memiliki berbagai kompetensi, untuk mencapai tujuan tersebut, peserta didik perlu menempuh pengalaman dan latihan serta mencari informasi. Sarana yang efektif untuk memenuhi hal itu adalah buku teks pelajaran sebab dalam buku teks pelajaran tersaji pula cara menempuh dan mecarinya secara terprogram.
Buku teks pelajaran memang disajikan untuk peserta didik, namun sangat berguna pula bagi guru. Ketika guru menyampaikan materi pembelajaran, ia akan mempertimbangkan pula materi yang tersaji dalam buku teks pelajaran. Memang, guru memiliki kebebasan dalam memilih, mengembangkan, dan menyajikan materi sebagai kewenangan dan kewajiban profesionalnya. Namun demikian, segala yang tersaji dalam buku teks pelajaran dapat dijadikan sebagai acuan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran, sebagaimana bunyi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 2/2008 Pasal 6 yang menyatakan bahwa ”Buku teks digunakan sebagai acuan wajib oleh pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran” (Depdiknas, 2008). Namun demikian, guru diharapkan dapat menggunakan pula sumber-sumber lain untuk memperkaya dan memperluas materi pembelajaran.
Mutu buku teks pelajaran bergantung pada pemenuhan keperluan belajar siswa. Semakin banyak keperluan siswa yang dapat dilayani oleh buku teks pelajaran, maka buku itu semakin baik. Buku teks pelajaran perlu memberi kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan kecepatan belajarnya; untuk melakukan pendalaman materi; untuk melakukan pemeriksaan ulang untuk mengingat sesuatu; untuk memantapkan pemahamannya melalui penyajian gambar, diagram, diagram, grafik, tabulasi, dan sebagainya.
Buku teks pelajaran dikembangkan dari Standar Isi. Pada kerangka dasar kurikulum tingkat satuan pendidikan telah ditetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang seharusnya tersaji dalam buku teks pelajaran. Oleh karena itu, dalam buku teks pelajaran disajikan penafsiran, penjelasan, perincian, perlengkapan, pengembangan, dan pemaduan terhadap standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik. Dengan demikian, materi dan susunan dalam buku teks pelajaran merupakan penafsiran penulis. Penyajian dalam buku teks disajikan sesuai dengan proses pemerolehan standar kompetensi oleh peserta didik berlandaskan ruang lingkup penguasaan mereka pada kompetensi dasar yang dikembangkan dan landasan-landasan pembelajaran yang relevan dengan kondisi peserta didik.


D. Memilih Buku Teks Pelajaran
Buku teks pelajaran yang dinyatakan memiliki kelayakan pakai bagi satuan pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh peraturan menteri. Penetapan ini didasarkan pada hasil penilaian yang dilakukan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Dari hal ini maka akan terdapat sejumlah buku-buku teks yang dinyatakan layak pakai di sekolah untuk semua mata pelajaran pada suatu satuan pendidikan. Setiap sekolah harus menetapkan buku teks yang akan digunakan untuk kurun waktu lima tahun berdasarkan pemilihan yang dilakukan melalui rapat pendidik.
Sejalan dengan hal ini, untuk memilih buku teks yang akan ditetapkan penggunaannya pada suatu satuan pendidikan diperlukan prosedur pemilihan. Salah satu prosedur yang dapat dipilih adalah melalui pertimbangan yang dilakukan oleh para pendidik. Aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan adalah kesesuaian materi, penyajian materi, penggunaan bahasa dan keterbacaannya, kualitas latihan dan soal yang disajikan, serta aksesibilitas terhadap buku teks. Secara rinci setiap aspek tersebut diuraikan berikut ini:

(1) Kesesuaian Materi
Kesesuaian materi yang terdapat dalam buku teks pelajaran berstandar yang akan dipilih melalui rapat pendidik (rapat guru) dapat dilakukan dengan menggunakan pertimbangan hal-hal sebagai berikut:
(a) Tujuan pembelajaran sesuai dengan kondisi peserta didik serta visi dan misi sekolah;
(b) Materi yang dikembangkan memiliki kekuatan bagi proses pembelajaran;
(c) Materi memiliki kesejalanan dengan konsep ilmu pendidikan;
(d) Materi akurat, mutakhir, dan sesuai dengan konteks dan kemampuan berpikir peserta didik;
(e) Materi dibahas secara mendalam sesuai dengan keperluan pembelajaran;

(2) Penyajian Materi
Penyajian buku teks merupakan aspek penting untuk dipertimbangkan oleh pendidik dalam memilih buku teks pelajaran berstandar nasional. Aspek-aspek yang perlu mendapat pertimbangan adalah:
(a) Penyajian peta konsep dan tujuan belajar mudah dipahami oleh peserta didik;
(b) Urutan materi dan hubungan antar-materi disajikan sistematis dan logis;
(c) Penyajian materi dan ilustrasi/gambar memotivasi peserta didik untuk belajar;
(d) Materi disajikan mendorong umpan balik dan refleksi diri peserta didik;
(e) Anatomi buku disajikan dengan model yang mudah dipahami peserta didik;

(3) Bahasa, Keterbacaan, dan Grafika
Aspek lain yang sangat penting bagi buku teks adalah bahasa yang digunakan. Selain itu aspek keterbacaan (readability) sangat menentukan keterpahaman dan kemenarikan buku teks. Aspek lainnya adalah grafika yang turut pula menentukan kualitas suatu buku teks. Oleh karena itu, dalam memilih buku perlu mempertimbangkan aspek-aspek berikut:
(a) Ketepatan dalam menggunakan pilihan kata dan gaya bahasa;
(b) Kalimat yang digunakan pada umumnya mudah dipahami;
(c) Paragraf yang disajikan tidak membingungkan;
(d) Memiliki keterbacaan yang sesuai dengan usia baca dari peserta didik;
(e) Penggunaan tata letak dan tipografi buku dapat meningkatkan pemahaman peserta didik.



(4) Latihan dan Soal
Salah satu ciri yang membedakan buku teks dengan jenis buku lain adalah ketersediaan latihan dan soal. Oleh karena itu dalam memilih buku teks perlu mempertimbangkan aspek ini. Adapun hal-hal yang perlu mendapat pertimbangan adalah:
(a) Latihan dan soal yang dikembangkan berkualitas dan fungsional;
(b) Latihan-latihan sesuai dengan kompetensi dasar yang dibelajarkan;
(c) Soal yang digunakan mengukur kemampuan peserta didik secara komprehensif.

(5) Aksesibilitas Terhadap Buku Teks
Aspek lain yang juga sangat penting dalam memilih buku teks adalah aksesibilitas terhadap buku teks tersebut. Sekalipun aspek-aspek lain telah mendapat pertimbangan, jika aspek ini terabaikan tentu saja masih sangat sulit memiliki buku teks yang telah terpilih itu. Oleh karena itu, dalam memilih buku teks pelajaran perlu mendapat pertimbangan hal-hal berikut:
(a) Buku teks tersebut mudah diperoleh;
(b) Harga buku teks terjangkau oleh ketersediaan anggaran atau peserta didik.



E. Format Pemilihan
Memilih buku teks berstandar nasional merupakan upaya pendidik dalam menentukan buku yang lebih sesuai dengan kondisi daerah dan karakteristik peserta didik. Rapat pendidik dalam memilih buku teks merupakan proses yang harus ditempuh sebagai bahan pertimbangan bagi kepala sekolah untuk menetapkan buku teks yang digunakan di satuan pendidikan yang dipimpinnya. Penetapan buku teks terpilih ini dapat berdampak pada penyediaan buku teks di perpustakaan yang harus dilakukan sekolah atau lembaga lain yang akan membantu dalam menyediakan buku teks di perpustakaan. Selain itu, penetapan buku teks terpilih ini akan dijadikan sebagai dasar bagi orangtua atau wali murid untuk memenuhi keinginan peserta didik yang ingin memilikinya.
Rapat pendidik merupakan prosedur standar yang harus ditempuh dalam memilih buku teks sesuai dengan ketentuan pemerintah. Rapat pendidik yang dimaksud adalah rapat guru mata pelajaran yang sejenis di satu satuan pendidikan atau yang dikenal dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Dalam rapat MGMP ini setiap pendidik menyampaikan pertimbangan memilih buku teks untuk digunakan di sekolahnya.
Untuk memudahkan rapat pendidik dalam memberikan pertimbangan dapat digunakan format penilaian seperti berikut ini:
TABEL 1.1
PENILAIAN BUKU TEKS
Judul Buku: ...............................................
Penerbit: ....................................................
NO
ASPEK PENILAIAN
KUALITAS
SKOR
1
Kesesuaian Materi: (Skor 1-40)
(1) Apakah tujuan pembelajaran sesuai dengan kondisi peserta didik serta visi dan misi sekolah?
(2) Apakah materi yang dikembangkan memiliki kekuatan bagi proses pembelajaran?
(3) Apakah materi memiliki kesejalanan dengan konsep ilmu pendidikan?
(4) Apakah materi akurat, mutakhir, dan sesuai dengan konteks dan kemampuan berpikir peserta didik?
(5) Apakah materi dibahas secara mendalam sesuai dengan keperluan pembelajaran?


2
Penyajian Materi: (Skor 1-25)
(1) Apakah penyajian peta konsep dan tujuan belajar mudah dipahami oleh peserta didik?
(2) Apakah urutan materi dan hubungan antar-materi disajikan sistematis dan logis?
(3) Apakah penyajian materi dan ilustrasi/gambar dapat memotivasi peserta didik untuk belajar?
(4) Apakah materi disajikan dapat mendorong umpan balik dan refleksi diri peserta didik?
(5) Apakah anatomi buku disajikan dengan model yang mudah dipahami oleh peserta didik?


3
Bahasa, Keterbacaan, dan Grafika:
(Skor 1-15)
(1) Apakah penggunaan pilihan kata dan gaya bahasa secara umum dalam buku itu tepat?
(2) Apakah kalimat-kalimat yang digunakan pada umumnya mudah dipahami peserta didik?
(3) Apakah paragraf yang disajikan pada umumnya tidak membingungkan peserta didik?
(4) Apakah buku teks tersebut memiliki keterbacaan yang sesuai dengan usia baca peserta didik?
(5) Apakah penggunaan tata letak dan tipografi buku dapat meningkatkan pemahaman peserta didik?


4
Latihan dan Soal: (Skor 1-10)
(1) Apakah latihan-latihan dan soal yang dikembangkan pada umumnya berkualitas dan fungsional?
(2) Apakah latihan-latihan pada umumnya sesuai dengan kompetensi dasar yang dibelajarkan?
(3) Apakah soal-soal yang digunakan pada umumnya mengukur kemampuan peserta didik secara komprehensif?


5
Aksesibilitas terhadap Buku Teks (Skor 1-10)
(1) Apakah buku teks tersebut mudah diperoleh di toko-toko yang mudah terjangkau dari sekolah?
(2) Apakah harga buku teks terjangkau oleh ketersediaan anggaran sekolah atau keuangan peserta didik jika mereka ingin memilikinya?


Jumlah skor


Catatan: Skor diberikan pada butir-butir yang diukur dengan jumlah skor maksimal pada setiap aspek berbeda-beda.

Skor total dari format di atas adalah 100. Dalam menentukan buku yang terpilih ditetapkan buku yang mendapatkan skor tertinggi dari skor yang diberikan oleh rapat pendidik. Dengan demikian, rapat pendidik memberikan pertimbangan terhadap buku teks berstandar nasional yang akan ditetapkan ditempuh melalui proses menilai kualitas buku tersebut.


F. Penutup
Pemilihan buku teks pelajaran sebagaimana diungkapkan dalam pedoman ini dimaksudkan untuk memandu para pendidik dalam memilih dengan memberikan pertimbangan kualitas dan kesesuaian dengan kondisi peserta didik. Pertimbangan memilih buku teks dengan memberikan skor pada setiap aspek ini dimaksudkan untuk memudahkan pengambilan keputusan. Model pertimbangan seperti ini dapat pula dilakukan pada buku teks yang belum ditetapkan oleh pemerintah atau buku teks muatan lokal belum ditetapkan oleh pemerintah daerah agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan sukses. Pemilihan buku teks ini dapat digunakan pula untuk memilih buku-buku teks yang akan disediakan di perpustakaan kelas atau perpustakaan sekolah.




Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional (2005) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

Departemen Pendidikan Nasional (2008) Permendiknas Nomor 02 Tahun 2008 tentang Buku. Jakarta: Depdiknas.

Larson, Jeanette (2001) School Library Programs. Texas State Library and Archives Commission.

Pusat Perbukuan (2003) Pedoman Klasifikasi Buku Pendidikan. Jakarta; Pusat Perbukuan Depdiknas.

Sumartini, M.T. (2002) Panduan Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Supriadi, Dedi (2001) Anatomi Buku Sekolah di Indonesia. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

Menulis Buku Pengayaan

oleh: Dr. H. Suherli, M.Pd.

1. Pendahuluan
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Adapun fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Fokusmedia, 2003).
Pendidikan akan berhasil jika peserta didik mengalami perubahan ke arah positif dalam berbagai aspek. Buku akan sangat membantu dalam pencapaian perubahan ini. Oleh karena itu, cukup beralasan apabila pemerintah dan semua pihak dapat mengembangkan pengadaan buku, baik buku teks pelajaran, buku panduan pendidik, buku pengayaan, dan buku referensi. Untuk keperluan ini diperlukan langkah-langkah pengendalian dan pemantauan agar keberadaanya benar-benar dapat membantu peningkatan mutu pendidikan serta sekaligus merupakan sarana yang efektif dalam mencapai tujuan pendidikan. Hal ini sejalan dengan Permendiknas Nomor 11/2005 Pasal 2 yang intinya menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, selain menggunakan buku teks pelajaran sebagai acuan wajib, guru dapat menggunakan buku pengayaan dalam proses pembelajaran dan menganjurkan peserta didik membacanya untuk menambah pengetahuan dan wawasan (Pusat Perbukuan Depdiknas, 2005:3).
Buku pengayaan di masyarakat sering dikenal dengan istilah buku bacaan atau buku kepustakaan. Buku ini dimaksudkan untuk memperkaya wawasan, pengalaman, dan pengetahuan pembacanya. Buku pengayaan diartikan sebagai buku yang memuat materi yang dapat memperkaya dan meningkatkan penguasaan ipteks dan keterampilan; membentuk kepribadian peserta didik, pendidik, pengelola pendidikan, dan masyarakat lainnya. Buku ini dapat menjadi bacaan bagi peserta didik, pendidik, pengelola pendidikan, dan masyarakat lainnya. Adapun karakteristik buku pengayaan adalah (1) Materi dapat bersifat kenyataan atau rekaan; (2) Pengembangan materi tidak terkait langsung dengan kurikulum atau kerangka dasarnya; (3) Materi disajikan secara popular atau teknik lain yang inovatif; (4) Penyajian materi dapat berbentuk deskripsi, eksposisi, argumentasi, narasi, puisi, dialog, dan/atau menggunakan penyajian gambar; (5) Penggunaan media bahasa atau gambar dilakukan secara inovatif dan kreatif.

2. Jenis-jenis Buku Pengayaan
Berdasarkan dominasi materi/isi yang disajikan di dalamnya, buku pengayaan dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis, yaitu kelompok buku pengayaan: (1) pengetahuan, (2) keterampilan, dan (3) kepribadian. Setiap jenis buku pengayaan kadang-kadang sulit dibedakan, namun jika dikaji berdasarkan materi/isi yang mendominasi di dalamnya maka dapat ditetapkan ke dalam salah satu jenis buku pengayaan.
Buku pengayaan pengetahuan adalah buku yang memuat materi yang dapat memperkaya penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, dan menambah kekayaan wawasan akademik pembacanya. Adapun ciri-ciri buku pengayaan pengetahuan adalah:
1) Materi/isi buku bersifat kenyataan;
2) Pengembangan isi tulisan tidak terikat pada kurikulum;
3) Pengembangan materi bertumpu pada perkembangan ilmu terkait; dan
4) Bentuk penyajian berupa deskriptif dan dapat disertai gambar;
5) Penyajian isi buku dilakukan secara popular.
Contoh judul buku pengayaan pengetahuan adalah:
§ Tanaman Obat Penyembuh Ajaib karya Herminia de Guzman-Ladion.
§ Konsep-konsep Dasar Sistem Informasi Geografis karya Eddy Prahasta.
§ Pemugaran Candi Tikus karya Sri Sugiyanti, dkk.
§ Tumbuhan Berkhasiat karya Dadi Gundayana
Buku pengayaan keterampilan adalah buku yang memuat materi yang dapat memperkaya penguasaan keterampilan bidang tertentu. Adapun ciri-ciri buku pengayaan keterampilan adalah:
1) Materi/isi buku mengembangkan keterampilan yang bersifat faktual;
2) Materi/isi buku berupa prosedur melakukan suatu jenis keterampilan;
3) Penyajian materi dilakukan secara prosedural
4) Bentuk penyajian dapat berupa narasi atau deskripsi yang dilengkapi gambar/ilustrasi.
5) Bahasa yang digunakan bersifat teknis.
Contoh judul buku pengayaan keterampilan adalah:
§ Membuat Mesin Tetas Elektronik karya Kelly S.
§ Budidaya Ayam Bangkok karya Dudung Abdul Muslim.
§ Petunjuk Perawatan Anggrek karya Hadi Iswanto.
§ Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan karya Ny. Rusina S. Pamuntjak.
Buku pengayaan kepribadian adalah buku yang memuat materi yang dapat memperkaya kepribadian atau pengalaman batin seseorang. Adapun ciri-ciri buku pengayaan kepribadian adalah:
1) Materi/isi buku dapat bersifat faktual atau rekaan;
2) Materi/isi buku meningkatkan dan memperkaya kualitas kepribadian atau pengalaman batin;
3) Penyajian materi/isi buku dapat berupa narasi, deskripsi, puisi, dialog atau gambar;
4) Bahasa yang digunakan bersifat figuratif.
Contoh judul buku pengayaan kepribadian:
Layar Terkembang karya St. Takdir Alisyahbana.
Merakit dan Membina Keluarga Bahagia karya W. Jay Batra dkk.
Mendidik Anak dalam Keluarga Masa Kini karya R.I. Suhartin C.
Membangun Kreativitas karya Anna Craft.
Dicabik Benci dan Cinta 2 karya Marga T.
Pedang Raja karya Yaseoulrok.
Blues untuk Bonie karya W.S. Rendra

Dengan memahami jenis-jenis buku pengayaan sebagaimana diungkapkan, seorang penulis dapat memilah fokus penulisan buku pengayaan. Apabila penulis hanya ingin menyajikan informasi tentang sesuatu hal, maka tulisan yang disajikannya termasuk ke dalam pengayaan pengetahuan. Apabila penulis, selain menyampaikan informasi ia ingin agar pembaca melakukan kegiatan atau keterampilan tertentu maka tulisan yang disajikannya termasuk ke dalam pengayaan keterampilan. Jika penulis selain menyampaikan informasi namun berharap terdapat dampak pada perubahan kepribadian pembaca atau dapat “menyentuh” psikhis pembaca maka tulisan yang dibuatnya adalah pengayaan kepribadian. Namun, ketiga jenis tulisan ini dapat memperkaya pembaca sehingga dinamakan buku pengayaan.
Berdasarkan ilustrasi di atas dapat dinyatakan bahwa seorang penulis dengan mengusung topik tertentu, mungkin saja tulisannya menjadi jenis pengayaan pengetahuan dan mungkin pula menjadi tulisan pengayaan keterampilan. Secara sederhana dapat dinyatakan bahwa jika seorang penulis akan mengangkat topik “Jagung Hibrida”, tulisannya mengupas secara faktual tentang ilmu pengetahuan atau teknologi yang berhubungan dengan jagung hibrida, maka tulisannya berupa pengayaan pengetahuan. Namun, jika tulisannya mengupas cara bertanam jagung hibrida maka tulisannya itu termasuk ke dalam jenis pengayaan keterampilan. Demikian pula jika jagung hibrida ditulis dalam bentuk cerita rekaan atau kisah nyata yang dapat memperkaya pengalaman batin atau psikhis pembaca maka tulisannya itu termasuk ke dalam jenis pengayaan kepribadian.

3. Teknik Menulis Buku Pengayaan
Buku pengayaan merupakan buku yang dapat memperkaya dan meningkatkan penguasaan ipteks, keterampilan, dan membentuk kepribadian peserta didik, pendidik, pengelola pendidikan, dan masyarakat lainnya. Buku jenis ini tidak semata-mata dimaksudkan hanya untuk peserta didik (siswa) namun dapat pula digunakan oleh pihak lain atau masyarakat pada umumnya. Buku pengayaan dapat digunakan guru dalam memperkaya hasil proses pembelajaran dan guru dapat menganjurkan peserta didik untuk membaca buku-buku jenis ini.
Keberagaman jenis buku ini masih sangat sedikit. Untuk itu sangat diperlukan pembinaan kepada para penulis atau para guru yang berminat menulis buku pengayaan. Untuk dapat menulis buku pengayaan diperlukan pengenalan teknik penulisan yang handal agar dapat meningkatkan kualitas buku tersebut dan hasilnya berfungsi sebagai pengaya bagi peserta didik.
Sesuai dengan fungsinya sebagai buku pengayaan dalam proses pembelajaran di sekolah (SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK), penulis buku pengayaan harus memerhatikan tiga aspek, yaitu yang berkaitan dengan materi/isi buku, penyajian materi/isi, kaidah bahasa atau ilustrasi yang digunakan, dan aspek grafika suatu buku yang layak untuk digunakan di sekolah.

3.1 Aspek Materi/Isi Buku
Dalam menulis buku pengayaan (baik pengetahuan, keterampilan, maupun kepribadian) harus memerhatikan tiga kriteria pokok, yaitu:
(1) Memiliki kesesuaian dengan tujuan pendidikan;
(2) Menyesuaikan dengan perkembangan ilmu;
(3) Mengembangkan kemampuan bernalar.
Ketiga kriteria ini harus terpenuhi dalam mengusung materi atau isi buku pengayaan. Buku pengayaan dapat digunakan untuk mendidik pembaca dalam rangka mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kriteria pertama, “memiliki kesesuaian dengan tujuan pendidikan” dijadikan dasar karena materi buku pengayaan diharapkan dapat membantu pencapaian tujuan pendidikan. Materi buku pengayaan harus sesuai dengan tujuan pendidikan, yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tentu saja, kriteria ini tidak terungkap secara eksplisit dalam materi buku pengayaan melainkan materi atau isi buku tersebut memiliki kesesuaian dengan upaya pencapaian tujuan ini. Oleh karena itu, seorang penulis dapat mengusung materi dalam buku pengayaan berdasarkan indikator dari kriteria ini, yaitu materi atau isi (a) mendukung pencapaian tujuan pendidikan; (b) mengembangkan tujuan pendidikan, dan (c) tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan.
Kriteria “menyesuaikan dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni (Ipteks)” dimaksudkan bahwa materi buku pengayaan itu tidak bertentangan dengan perkembangan dan konsep Ipteks. Indikator dari kriteria ini adalah materi atau isi buku pengayaan itu (a) sesuai dengan kebenaran konsep keilmuan; (b) sesuai dengan perkembangan Ipteks; (c) sesuai dengan kondisi dan data mutakhir; (d) sesuai dengan kenyataan atau bersifat faktual. Apabila penulis buku pengayaan menyusun materi, maka materi yang ditulis harus sesuai dengan kebenaran konsep keilmuan, sesuai dengan perkembangan Ipteks, sesuai dengan kondisi mutakhir dan sesuai dengan kenyataan faktual.
Kriteria, “mengembangkan kemampuan bernalar” dimaksudkan bahwa materi buku pengayaan itu harus dapat mendorong pembacanya untuk bernalar atau berpikir. Indikator dari kriteria ini adalah mendorong pembaca untuk berpikir (a) kritis; (b) kreatif; dan (c) inovatif. Pada setiap lembaga pendidikan pembelajaran berpikir tidak secara khusus dilakukan sebagai mata pelajaran, melainkan diselipkan dalam kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Oleh karena itu, apabila menulis buku pengayaan, materi yang ditulis harus dapat menjalankan fungsi mengembangkan kemampuan bernalar.

1) Kriteria Khusus Materi Buku Pengayaan Pengetahuan
Aspek yang menjadi ciri khusus buku pengayaan pengetahuan adalah “mengembangkan nilai-nilai moral dan budaya”. Aspek ini dimaksudkan agar buku pengayaan pengetahuan itu dapat mengembangkan nilai-nilai moral bangsa Indonesia sebagai nilai luhur yang merupakan karakter bangsa Indonesia. Selain itu, nilai-nilai budaya bangsa Indonesia pun perlu terus dikembangkan termasuk materi yang diusung dalam buku pengayaan pengetahuan. Untuk itu, indikator dari aspek ini adalah materi buku pengayaan (a) mengembangkan nilai-nilai moral dan budaya bangsa Indonesia; (b) tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral bangsa Indonesia; dan (c) tidak bertentangan dengan nilai-nilai budaya bangsa.

2) Kriteria Khusus Materi Buku Pengayaan Keterampilan
Aspek yang harus diperhatikan sebagai ciri khusus dalam materi buku pengayaan keterampilan adalah bahwa materi:
(1) Memiliki manfaat bagi kehidupan; dan
(2) Mengembangkan kecakapan hidup.
Kedua aspek ini harus diperhatikan dalam menulis buku pengayaan keterampilan.
Materi buku pengayaan keterampilan harus memiliki manfaat bagi kehidupan pembaca, khususnya bagi peserta didik. Dengan demikian, materi dalam buku jenis ini adalah keterampilan-keterampilan yang bermanfaat dalam kehidupan siswa harus terusung dalam materi buku pengayaan keterampilan. Oleh karena itu, indikator dari aspek ini adalah: (a) dapat digunakan untuk memecahkan masalah; (b) dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya; dan (c) dapat mendorong “jiwa kewirausahaan” atau berusaha untuk mencari dan melakukan sesuatu.
Materi buku pengayaan keterampilan juga harus dapat mengembangkan kecakapan hidup (life skills) pembaca, terutama bagi peserta didik. Kecakapan hidup yang harus dikembangkan sebagai materi buku pengayaan keterampilan adalah kecakapan akademik, sosial, dan kejuruan. Oleh karena itu, indikator dari aspek ini adalah (a) mengembangkan kecakapan akademik; (b) mengembangkan kecakapan sosial; dan (c) mengembangkan kecakapan kejuruan atau motorik.

3) Kriteria Khusus Materi Buku Pengayaan Kepribadian
Dalam menulis buku pengayaan kepribadian, selain memenuhi tiga kriteria pokok di atas, materi dalam buku pengayaan kepribadian harus berupa materi yang dapat:
(1) Membangun mental-emosional;
(2) Membangun pribadi arif dan berwibawa; dan
(3) Mendorong sikap empati dan apresiasi.
Ketiga aspek ini menjadi pelengkap kriteria materi buku pengayaan kepribadian.
Materi buku pengayaan kepribadian harus dapat membangun mental emosional pembaca, khususnya peserta didik. Dalam membangun mental-emosional pembaca melalui materi buku pengayaan kepribadian dapat dilakukan melalui uraian materi atau isi buku yang dapat mengembangkan jiwa sportif, sikap yang mampu mengendalikan diri dari hal-hal yang merugikan, sikap percaya diri, dan kedewasaan diri, baik dewasa mental, spiritual, maupun emosional. Oleh karena itu, indikator dari membangun mental-emosional dalam menulis buku pengayaan kepribadian adalah materi atau isi buku yang (a) mengembangkan jiwa sportivitas; (b) sikap pengendalian diri; (c) sikap percaya diri; dan (d) mendorong kedewasaan mental, spiritual, dan emosional.
Materi buku pengayaan kepribadian harus dapat membangun pribadi yang arif dan berwibawa. Materi yang mencerminkan pribadi arif dan berwibawa dalam buku pengayaan kepribadian ditunjukkan melalui pesan (message) atau kisah/cerita tokoh utama sebagai figur yang memiliki sikap komitmen terhadap tugas, berjiwa solider, mandiri dan memiliki keyakinan diri, dapat dipercaya, dan konsisten. Oleh karena itu, indikator dari aspek membangun pribadi yang arif dan berwibawa dalam menulis buku pengayaan kepribadian diungkapkan melalui isi atau pesan yang dapat (a) mengembangkan sikap komitmen terhadap tugas; (b) membangun jiwa solidaritas; (c) mendorong kemandirian dan keyakinan diri; (d) mengembangkan sikap dan perilaku yang dapat dipercaya; dan (e) mengembangkan sikap dan perilaku konsisten.
Materi buku pengayaan kepribadian harus dapat mendorong sikap empati dan apresiasi. Sikap empati itu dapat ditunjukkan melalui “ikut merasakan apa yang dialami” tokoh utama, terutama ketika mengalami suatu tekanan atau kejadian menyedihkan. Sikap apresiasi ditunjukkan melalui perilaku yang dapat mengekspresikan “apa yang dirasakan orang lain” atau tokoh utama, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Sikap empati dan apresiasi juga dapat ditunjukkan oleh sikap menghargai orang lain, dalam perbedaan atau kesamaan sebagai seseorang yang memiliki jiwa demokratis atau jiwa merdeka. Oleh karena itu, indikator materi yang memenuhi aspek mendorong sikap empati dan apresiasi dapat ditunjukkan melalui isi atau pesan yang dapat (a) mengembangkan sikap “ikut merasakan apa yang dialami orang lain”; (b) mengembangkan perilaku yang mengekspresikan “apa yang dirasakan orang lain”; dan (c) mengembangkan sikap menghargai orang lain secara demokratis dan berjiwa merdeka.

3.2 Aspek Penyajian Materi
Dalam menyajikan materi dalam buku pengayaan (baik pengetahuan, keterampilan, maupun kepribadian) harus memerhatikan empat kriteria pokok, yaitu:
(1) Sistematikanya logis;
(2) Penyajian Materi mudah dipahami;
(3) Merangsang pengembangan kreativitas;
(4) Menghindari masalah SARA, Bias Jender, serta Pelanggaran HAM & Hak Cipta.
Keempat kriteria ini harus diperhatikan oleh penulis buku pengayaan dalam menyajikan materi/isi buku.
Penyajian materi buku pengayaan harus logis dan sistematis. Kelogisan sajian materi ini ditandai oleh penataan bagian-bagian yang disajikan secara apik, baik secara deduktif maupun induktif. Selain itu, materi buku pengayaan harus sistematis baik berdasarkan pertimbangan urutan waktu, ruang, maupun jarak yang disajikan secara teratur. Penulis buku pengayaan harus dapat mengarahkan kerangka berpikir (mind frame) pembaca melalui penyajian materi yang logis dan sistematis.
Penyajian materi buku pengayaan harus mudah dipahami. Pesan yang sangat dalam dan berharga dalam buku akan menjadi sia-sia apabila isi buku sulit dipahami pembaca karena penyajiannya “berat”. Untuk itu, seorang penulis buku pengayaan harus dapat menyajikan materi/isi dalam bentuk yang familiar (intim) dengan pembaca sasaran (siswa). Materi buku pengayaan akan mudah pula dipahami oleh pembaca jika materi disajikan dalam suasana yang menyenangkan dan tidak membuat pembaca berpikir terlalu “berat”. Selain itu, untuk memudahkan penyajian buku, penulis buku pengayaan harus dapat melengkapi materi atau isi buku dengan ilustrasi (gambar atau foto) dan pesan (ilustrasi dengan bahasa). Oleh karena itu, indikator penyajian buku mudah dipahami adalah (a) penyajian materi dalam buku familiar dengan pembaca; (b) penyajian materi dapat menimbulkan suasana menyenangkan; (c) penyajian materi dilengkapi dengan ilustrasi.
Penyajian materi buku pengayaan harus dapat merangsang kreativitas pembaca, khususnya peserta didik. Rangsangan kreativitas yang harus dapat tercipta melalui penyajian buku pengayaan, misalnya aktivitas kreatif dan akademis, fisik dan psikhis, dan dorongan untuk mencoba melakukan hal-hal yang positif. Indikator penyajian buku pengayaan yang merangsang pengembangan kreativitas ini ditandai oleh indikator penyajian materi buku yang: (a) mendorong pembaca untuk melakukan aktivitas akademik dan kreatif; (b) mengarah pada pengembangan aktivitas fisik atau psikhis; (c) merangsang pembaca untuk mencoba melakukan hal-hal yang positif.
Penyajian materi buku pengayaan harus menghindari masalah SARA, bias jender, pelanggaran HAM dan Hak Cipta karena masalah-masalah ini masih sangat peka. Penulis buku pengayaan harus memprediksi masalah yang akan timbul karena perbedaan Suku, Agama, Ras (keturunan), dan Antar Golongan (SARA) sehingga dalam menyajikan materi dilakukan secara cermat. Penyajian materi buku pengayaan harus juga menghindari persoalan yang dimungkinkan dapat timbul dari diskriminasi jender (wanita atau laki-laki). Perlakuan jender secara berbeda dalam materi pengayaan dapat memunculkan permasalahan yang sangat serius. Selain itu, penyajian materi buku pengayaan harus menghindari pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Penyajian materi harus menghindari pelanggaran Hak Cipta, baik dari tinjauan orisinalitas gagasan maupun bentuk terjemahan yang perlu disajikan secara jelas.

1) Kriteria Khusus Penyajian Buku Pengayaan Pengetahuan
Aspek yang harus diperhatikan sebagai ciri khusus dalam materi buku pengayaan pengetahuan adalah bahwa penyajian materi seharusnya dapat:
(1) Menumbuhkan motivasi untuk mengetahui lebih jauh
(2) Mengembangkan kecakapan akademik
Selain empat kriteria pokok di muka, seorang penulis harus memerhatikan pula aspek-aspek ini dalam menyajikan buku pengayaan pengetahuan.
Penyajian buku pengayaan pengetahuan harus dapat menumbuhkan motivasi pembaca untuk mengetahui lebih jauh. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyajikan materi buku pengayaan yang menumbuhkan motivasi untuk mengetahui lebih jauh ditandai oleh penyajian materi yang (a) mendorong keingintahuan pembaca; (b) mendorong minat untuk mengumpulkan informasi; (c) mendorong untuk mencari buku/teks sejenis.
Penyajian materi buku seharusnya dapat mengembangkan kecakapan akademik. Menulis buku pengayaan yang mengembangkan kecakapan akademik itu ditandai oleh indikator (a) menuntun pembaca untuk menggali informasi; (b) menuntun kecakapan dalam memecahkan masalah; (c) menuntun untuk mengambil keputusan.

2) Kriteria Khusus Penyajian Buku Pengayaan Keterampilan
Aspek yang harus diperhatikan dalam menyajikan materi buku pengayaan keterampilan adalah bahwa penyajian materi seharusnya:
(1) Menyertakan kelengkapan sajian
(2) Mudah untuk diterapkan
Kedua kriteria ini harus diperhatikan dalam menulis buku pengayaan keterampilan.
Dalam menulis buku pengayaan keterampilan, seorang penulis harus dapat menyertakan sajian secara lengkap dan mudah diterapkan. Apabila penyajian materi keterampilan tidak disajikan secara lengkap maka akan sulit dipahami prosedur kegiatan yang dilakukan. Oleh karena itu, dalam menulis buku pengayaan keterampilan seharusnya penulis (a) melengkapinya dengan informasi bahan yang digunakan, alat-alat yang dipakai, dan formula yang dapat ditiru oleh pembaca; (b) melengkapi materi dengan paparan tentang prosedur kerja; dan (c) melengkapinya dengan standar keselamatan kerja dalam menerapkan prosedur-prosedur yang telah dipaparkan.
Penyajian materi pengayaan keterampilan harus mudah untuk diterapkan atau diikuti langkah-langkahnya oleh pembaca. Untuk memenuhi ini seorang penulis harus memerhatikan penyajian secara (a) praktis dan mudah dilakukan oleh pembaca sasaran; (b) sederhana (tidak kompleks) tahapan-tahapan yang harus dilakukan; (c) jelas tahapan dan penerapannya.

3) Kriteria Khusus Penyajian Buku Pengayaan Kepribadian
Aspek yang harus diperhatikan dalam menyajikan materi buku pengayaan, selain kriteria pokok di atas, dalam menulis buku pengayaan kepribadian dapat “menyajikan bacaan yang sesuai” Dalam menyajikan materi dapat menggunakan referensi yang sesuai (kecuali tulisan berbentuk prosa, puisi, atau drama). Selain itu, materi yang disajikan menggunakan jenis bacaan narasi yang sesuai. Apabila penulis buku pengayaan kepribadian mengusung deskripsi atau naskah biografi dapat menggunakan contoh-contoh perilaku yang positif dari kehidupan nyata. Oleh karena itu, dalam menyajikan buku pengayaan kepribadian, seorang penulis harus (a) menggunakan referensi yang sesuai dan relevan; (b) menggunakan jenis bacaan yang sesuai; (3) menggunakan contoh-contoh perilaku positif yang ada dalam berkehidupan nyata.

3.3 Aspek Kaidah Bahasa dan Ilustrasi
Dalam menulis buku pengayaan (baik pengetahuan, keterampilan, maupun kepribadian) harus memerhatikan kriteria penggunaan kaidah bahasa dan ilustrasi, yang meliputi:
(1) Kesesuaian ilustrasi dengan bahasa
(2) Keterpahaman bahasa atau ilustrasi
(3) Ketepatan dalam menggunakan bahasa
(4) Ketepatan dalam menggunakan gambar/foto/ilustrasi
Keempat kriteria ini harus diperhatikan oleh penulis buku pengayaan agar terbangun komunikasi yang harmonis antara penulis dengan pembacanya.
Dalam menulis buku pengayaan, seorang penulis harus memerhatikan kesesuaian ilustrasi dengan bahasa. Kesesuaian ini ditunjukkan melalui proporsi antara bahasa dengan ilustrasi secara logis dan serasi. Oleh karena itu, dalam menulis buku pengayaan harus memerhatikan indikator penggunaan bahasa dan ilustrasi (a) secara proporsional dan (b) serasi.
Buku pengayaan yang ditulis harus dapat dipahami pembacanya. Untuk itu, dalam menggunakan bahasa dan ilustrasi untuk berkomunikasi dalam buku, seorang penulis harus memerhatikan perkembangan kognisi sasaran pembaca. Namun, penggunaan ilustrasi dalam buku pengayaan kadang-kadang tidak membantu memberikan kejelasan pada teks (bahasa) yang digunakan. Dengan demikian, ilustrasi perlu dilengkapi dengan keterangan. Oleh karena itu, dalam meningkatkan keterpahaman pembaca terhadap bahasa dan ilustrasi dalam buku pengayaan, seorang penulis harus menggunakan (a) bahasa dan ilustrasi yang sesuai dengan perkembangan kognisi pembaca sasaran; (b) ilustrasi yang jelas dan dilengkapi dengan keterangan.
Kaidah bahasa dalam buku pengayaan harus diperhatikan sekali oleh penulis. Kekurangcermatan dalam menerapkan kaidah bahasa seringkali membuat komunikasi tertulis pembaca terganggu, bahkan mungkin pembaca mencampakkan buku itu. Oleh karena itu, dalam menulis buku pengayaan, seorang penulis harus menggunakan (a) ejaan secara benar; (b) kata dan istilah dengan tepat; (c) kalimat dengan baik dan benar; (d) paragraf yang harmonis dan kompak.
Ketepatan dalam menggunakan gambar, foto, atau ilustrasi dalam buku pengayaan harus tepat dan berfungsi. Penggunaan gambar yang semena-mena tidak akan dapat meningkatkan keterbacaan dan keterpahaman pembaca. Oleh karena itu, dalam menggunakan gambar, foto, atau ilustrasi dalam buku pengayaan harus menggunakan (a) ukuran dan bentuk yang sesuai dan menarik; (b) warna gambar yang sesuai dan fungsional.

4. Langkah-langkah Menulis Buku Pengayaan
Banyak penulis pemula yang sering terhambat ketika baru mulai menulis. Hal ini karena kekurangjelasan pemahaman mereka pada mekanika penulisan. Untuk mengantisipasi hambatan tersebut, di bawah ini disajikan prinsip yang dapat dijadikan acuan dalam penulisan buku pengayaan. Tahapan yang dimaksud, adalah:
1) Penulis perlu membaca buku-buku yang tergolong ke dalam klasifikasi buku pengayaan (pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian) yang digemari oleh pembaca (best seller) agar terbiasa dengan gaya tulisan yang disukai pembaca.
2) Penulis harus mengkaji asal mula gagasan penulisan yang baik muncul, misalnya gagasan terbaik yang muncul dari kehidupan langsung (kontekstual).
3) Penulis harus memahami betul untuk siapa buku tersebut ditulis. Perlu dipastikan sasaran pembaca yang diharapkan penulis dan perlu diingat bahwa buku tersebut bukan untuk diri penulis.
4) Penulis harus memahami tujuan penulisan buku. Dari awal penulis harus memastikan apakah tujuan penulisan dimaksdukan untuk tujuan memperkaya pengetahuan, keterampilan, atau kepribadian atau untuk tujuan lainnya.
5) Penulis harus memastikan hal-hal yang dijadikan pertimbangannya kepada pembaca, sehingga penulis harus memahami ketertarikan pembaca dan kebutuhan emosionalnya.
6) Penulis harus mampu membedakan antara kebutuhan literari dengan literasi (melek wacana) pembaca , dan memenuhi kedua kebutuhan ini dalam waktu bersamaan.
7) Penulis harus berpendapat bahwa pembaca sebenarnya pintar,, menyukai tantangan dan kreativitas (rima, ritme dan repetisi).
8) Penulis perlu mempersiapkan ilustrasi yang diguanakan, jika perlu sebaiknya sejak awal melibatkan seorang illustrator. Biasanya dalam menulis terdapat banyak hal yang tidak tepat jika diungkapkan dengan kata-kata, namun jika menggunakan gambar akan jauh lebih efektif.

Sebelum memulai menulis buku pengayaan, seorang penulis pemula dapat mengikuti tahapan berikut sebagai dasar dalam melatih diri secara efektif. Tahap-tahap yang dimaksud adalah:
(1) Membaca buku-buku pengayaan (pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian) yang dianggap bagus secara berulang-ulang;
(2) Membuat tulisan asli, jangan meniru gagasan atau struktur dari buku-buku pengayaan yang sudah dikenal.
(3) Memastikan tulisan akan memberi dampak emosional (pembaca harus mengalami perubahan karena membaca).
(4) Memastikan bahwa isi bacaan menarik untuk pembaca di berbagai usia, sekalipun pembaca sasaran telah ditetapkan;
(5) Menulis deskripsi dengan memerhatikan pesan “tunjukkanlah, jangan hanya menceritakan”.
(6) Penulis harus selalu ingat bahwa rahasia menulis yang baik adalah menulis ulang.
(7) Penulis harus memastikan bahwa naskah ditulis secara efektif, baik ejaan, kata, istilah, kalimat, maupun paragraf sesuai dengan kaidah bahasa dan berbahasa.
(8) Penulis pemula harus tetap yakin jika terjadi “penolakan naskah” dari penerbit maka lakukan penulisan ulang, berpikir ulang, dan kirim ke percetakan/penerbit lain.

5. Penutup
Buku pengayaan (pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian) merupakan buku yang dapat digunakan peserta didik di sekolah untuk menambah pengetahuan dan wawasannya. Selain itu, buku pengayaan juga dapat digunakan oleh tenaga pendidik dan kependidikan, komite sekolah, atau masyarakat lainnya. Buku pengayaan masih jarang yang ditulis dengan memiliki ciri-ciri sebagai buku yang memiliki kelayakan untuk digunakan di sekolah.
Buku pengayaan dapat diidentifikasi karakteristiknya berdasarkan dominasi materi/isi yang terdapat dalam buku tersebut. Apabila dalam buku tersebut lebih dominan memuat materi yang dapat memperkaya penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, dan menambah kekayaan wawasan akademik pembacanya, maka termasuk ke dalam buku pengayaan pengetahuan. Jika dalam buku terdapat bagian yang dominan memuat materi yang dapat memperkaya penguasaan keterampilan bidang tertentu maka termasuk ke dalam buku pengayan keterampilan. Demikian pula, jika sebuah buku memuat materi yang pada umumnya dapat memperkaya kepribadian atau pengalaman batin seseorang maka dinamakan buku pengayaan pengetahuan.
Dalam menulis buku pengayaan, kiranya perlu diketahui aspek-aspek yang harus diperhatikan, yaitu (1) aspek materi/isi buku pengayaan; (2) aspek penyajian materi/isi buku; dan (3) aspek kaidah bahasa dan ilustrasi. Pengenalan aspek-aspek yang diperhatikan, kriteria setiap aspek dan indikator setiap kriteria dapat membantu penulis dalam menuangkan karya menjadi buku pengayaan.


Daftar Kepustakaan
Duryatmo, Sardhi, Wirausaha Kerajinan Bambu, Puspa Swara, Jakarta, 2000.
Fachrudin, Lisdiana, Membuat Aneka Manisan, Kanisius, Yogyakarta,1998.
Muharnanto dan Aryastyani, Ria, Aneka Cetakan Lilin Hias, Puspa Swara, Jakarta, 2001.
Nelson G.C, Ceramics a Potter's Handbook, Holt, Reinhart and Winston Inc, New York, 1971.
Pusat Perbukuan (2003) Pedoman Klasifikasi Buku Pendidikan. Jakarta; Pusat Perbukuan Depdiknas.
R.A. Razak, Industri Keramik, P.N. Balai Pustaka, Jakarta, 1981.
Rasjoyo, Pendidikan Seni Rupa Untuk SMU kelas I, Erlangga, Jakarta, 1994.
Rhodes D., Clay and Glazes for the Potter, Chilton Book Company, Philadelphia, 1968.
Riyanto, Didik, Proses Batik: Batik Tulis-Batik Cap Batik Printing,CV.Aneka, Solo, 2002.
Robertson, JB., Keterampilan Teknik Listrik Praktis, Yrama Widya, Bandung, 2003.
Sahman, Humar, Mengenali Dunia Seni Rupa, Tentang Seni, Karya Seni, Aktivitas Kreatif, Apresiasi, Kritik dan Estetika, IKIP Semarang Press, Semarang, 1993
Sigar, Edi dan Ernawati, Buku Pintar Makanan, PT. Aksara Media Agung, Jakarta, 1993.
Soemarjadi dkk., Pendidikan Keterampilan, Depdikbud-Dirjendikti, Jakarta, 1991-1992.
Soemarjadi, Paket BelajarIKIP/FKIP:PengetahuanTeknologiKeramik I, P2LPT& Ditjen Dikti Departemen P dan K, Jakarta, 1985.
Sulistyowati, Retno, 20 Kreasi Rangkaian Bungan Kering dari Kulit Jagung, Puspa Swara, Jakarta, 2001.
Sumarah Adhyatman, Kendi, Himpunan Keramik Indonesia, Jakarta, 1987.
_______________, Tempayan di Indonesia, Jakarta: Himpunan Keramik Indonesia, 1984.
Supriadi, Dedi (2001) Anatomi Buku Sekolah di Indonesia. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.
Suprapti, M. Lies, Membuat Aneka Olahan Nanas, Puspa Swara, Jakarta, 2001.
­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­____________, Bandeng Asap, Kanisius, Yogyakarta, 2002.
Suradi, A. Prayitno, Membuat Aneka Barang Kerajinan Cideramata, Humaniora Utama Press, Bandung, 1999.
Yosalfa. Memperbaiki TV dan Radio, Puspa Swara, Jakarta, 2000
Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional.

UNESCO (2003) School Library. [On Line]. Tersedia. http://www.ifla.org.sg/VII s11/pubs. [10 Agustus 2003]