Pages

29 Mei, 2008

Karangan Ilmiah

Karangan dan Komunikasi Ilmiah
by Suherli


Kegiatan berkomunikasi dapat dilakukan secara lisan dan tulisan. Berkomunikasi yang dilakukan secara lisan akan terbatas oleh ruang dan waktu. Pada saat seseorang sedang berkomunikasi secara lisan maka komunikasi tersebut hanya berlaku bagi orang yang berada dalam satu ruangan dan dapat mendengar segala yang disampaikan. Berkomunikasi secara lisan dibatasi pula oleh waktu, ketika pembicaraan selesai maka selesai pula kegiatan komunikasi itu.
Kegiatan berkomunikasi dengan tulisan dapat menembus ruang dan waktu. Berkomunikasi melalui tulisan tidak dibatasi oleh kehadiran pembaca dalam suatu ruangan. Berkomunikasi lewat tulisan tidak harus dalam waktu tulisan itu dibuat, namun dapat dilakukan pembaca pada waktu yang berbeda, mungkin sehari berikutnya, sebulan yang akan datang, atau setahun yang akan datang. Bahkan mungkin sepuluh tahun yang akan datang tulisan masih dapat berfungsi sebagai media komunikasi.
Berkomunikasi melalui tulisan akan terjalin interaksi antara penulis dengan pembaca hanya melalui tulisan. Pembaca mencoba memahami maksud penulis melalui tulisan yang tampak secara grafika dalam naskah atau buku. Dari sederet kata dan kalimat tersebut terdapat makna komunikasi yang dijalin penulis yang dipersembahkan kepada sidang pembaca.
Salah satu media komunikasi tertulis adalah karangan atau karya tulis. Banyak sekali bentuk-bentuk karangan yang dapat dijumpai dalam naskah tertulis, salah satu di antaranya adalah karangan ilmu pengetahuan. Namun, karangan ilmu pengetahuan itu terbagi ke dalam karangan ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah dan karangan nonilmiah (Jones dalam Brotowidjojo, 1993:3). Klasifikasi ini berdasarkan pada argumen yang disajikan, sistematika, dan metode penyajian karangan tersebut.
Karangan ilmiah menyajikan argumen keilmuan berdasarkan fakta. Argumen ilmiah itu harus dapat dipercaya dan diterima kebenarannya, sehingga perlu kriteria penyajian yang benar. Argumen ilmiah dalam karangan ilmiah seharusnya disajikan dengan tidak membuat pihak lain atau sidang pembaca ragu untuk menerimanya. Penerimaan sidang pembaca terhadap komunikasi tertulis yang ilmiah didasarkan pada pemenuhan indikator sebuah karangan ilmiah, baik dari karakteristik, struktur, maupun aspek kebahasaan yang menjadi ciri karangan ilmiah.
Penyajian karangan ilmiah harus dilakukan secara logis. Karangan yang ilmiah berarti karangan yang menyajikan argumen dengan menggunakan logika berpikir secara benar. Apabila penyajian karangan ilmiah menggunakan logika yang benar maka argumen ilmu pengetahuan tersebut akan diterima pula oleh akal atau logika orang yang berpikir ilmiah. Apabila karangan ilmiah menyajikan argumen secara objektif, bukan argumen yang pribadi, maka akan dipahami pula oleh pembaca sebagai sebuah kebenaran.


Pentingnya Menulis Karangan Ilmiah
Pengembangan kemampuan menulis karangan ilmiah di kalangan siswa atau mahasiswa telah banyak dilakukan mulai dari pengembangan terhadap penguasaan unsur-unsur bahasa sampai dengan pengembangan terhadap kemampuan melakukan tahap-tahap proses kreatif. Pengembangan kemampuan menulis di sekolah-sekolah atau di perguruan tinggi tidak secara khusus dilakukan dalam bentuk pelatihan, kecuali pada beberapa tempat yang dikembangkan program workshop menulis yang berorientasi pada pengembangan menulis secara langsung.
Pembelajaran menulis di sekolah-sekolah di Indonesia tidak dilakukan secara khusus. Pembelajaran menulis hanya merupakan bagian kecil dari pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah-sekolah. Pengembangan kompetensi menulis kepada para siswa hanya sebagian kecil dari pembelajaran di kelas, sehingga kemampuan ini kurang merata dimiliki para pelajar. Bahkan, dari aspek pembinaan guru terhadap kemampuan menulis karangan kurang dilakukan secara optimal. Para siswa jarang beroleh masukan dari guru berupa koreksi terhadap karangan yang dibuatnya. Pada umumnya para siswa hanya mendapatkan nilai kemampuan mengarang, namun tidak mengetahui kelemahan dan keunggulan dari karangan yang dibuatnya.
Apabila terdapat beberapa kemampuan unggul dari para pelajar di Indonesia dalam menulis karangan ilmiah, kemampuan ini sebagai kemampuan bawaan atau karena siswa melatih dirinya. Kemampuan yang dimilikinya itu, bukan merupakan sebuah hasil optimal dari pembelajaran menulis, melainkan karena siswa melakukan kegiatan pengembangan diri dalam menulis.
Kondisi di atas merupakan sebuah fenomena yang mengakibatkan lemahnya kemampuan sebagian besar pelajar dalam menuangkan argumen secara tertulis. Padahal, kemampuan menulis karangan bagi para pelajar sangat penting sebagai bentuk kegiatan berkomunikasi secara tertulis. Dari para pelajar sangat diharapkan bermunculan berbagai pemikiran atau argumen keilmuan yang dapat melengkapi khasanah perkembangan ilmu.
Perkuliahan yang mengarah pada pembinaan kemampuan menulis di perguruan tinggi di Indonesia pada program studi nonbahasa hanya merupakan sebagian kecil dari luang lingkup mata kuliah Bahasa Indonesia. Kondisi ini tampak paradoks dengan tuntutan kemampuan menulis karangan ilmiah yang diharapkan dapat dilakukan mahasiswa. Pada umumnya, para mahasiswa beroleh kesulitan di dalam menulis karangan ilmiah jenis makalah yang ditugaskan kepadanya dari para dosen. Para mahasiswa sering pula menghasilkan makalah yang kurang memenuhi kriteria sebagai karangan ilmiah karena keterbatasan kemampuan dalam menulis karangan ilmiah yang dimilkinya.
Demikian pula ketika mahasiswa akan menyelesaikan studinya dan dituntut membuat karangan ilmiah berupa penuangan secara tertulis gagasan hasil penelitian, mereka mendapat kesulitan dalam merangkai gagasan tertulis ke dalam bentuk karangan ilmiah, yang harus dilaporkan dalam bentuk skripsi, tesis, atau disertasi.
Bentuk-bentuk pengembangan kemampuan menulis yang telah diterapkan dalam dunia pendidikan pada negara-negara maju di antaranya dilakukan oleh D’angelo (1997) yang melakukan pengembangan menulis secara bertahap. Tahapan pengembangan tersebut adalah pertama pemahaman tentang paragraf, kedua mengindikasi bahasan umum yang akan diungkapkan, ketiga menuangkan pernyataan-pernyataan dalam tulisan, keempat menetapkan rencana pengembangan.
Bentuk pengembangan lainnya telah dilakukan oleh Di-Yanni (1995:40), yaitu pengembangan kemampuan menulis yang dilakukan dengan mengembangkan gagasan atau ide melalui pengembangan pertanyaan-pertanyaan pada waktu menulis, kemudian mengembangkannya melalui keterhubungan antar-ide dan kontroversi dari setiap ide. Pengembangan ini akan memperkaya wawasan penulis dalam menuangkan gagasannya ke dalam tulisan.
Pengembangan menulis sebagai dasar pengembangan program literasi yang dilakukan di English Composition Board (ECB) di University of Michigan dengan menerapkan uji penempatan program bagi setiap mahasiswa yang akan mengikuti program tersebut sebagai prasyarat mengikuti program akademik. Setiap siswa yang akan memasuki ECB terlebih dahulu harus dapat menyusun esei sebelum mendaftar kelas yang akan dimasukinya. Berdasarkan kompetensi yang didemonstrasikan dalam tulisan tersebut, mahasiswa ditempatkan dalam tiga kategori program bersyarat, yaitu (1) Tutorial Program yang memiliki kredit dua sampai dengan empat satuan kredit yang harus diambil pada awal semester setelah mereka mengikuti matrikulasi; (2) Introductory Composition Program yang memiliki kredit empat satuan kredit dan diajarkan pada kedua semester awal setelah matrikulasi; dan (3) Exempted Program yang tidak memprasyaratkan program Introductory Composition bagi para mahasiswa sebelum mengikuti program menulis yang lebih tinggi (Stock, 1985:88).
Dari program yang diterapkan ini, kemudian program-programnya diperluas pada pengembangan alat ukur kemampuan menulis, pelatihan para pengajar dalam menulis, konferensi khusus atau pertemuan ilmiah tentang menulis serta berbagai aktivitas menulis lainnya. Perhatian secara optimal yang dilakukan oleh suatu institusi pada pengembangan kemampuan menulis tersebut dapat menghasilkan lulusan yang literat atau memiliki kamampuan literasi sebagai landasan keberhasilan penguasaan kemampuan lainnya.


Perkembangan Ilmu dalam Karangan Ilmiah
Pengetahuan ilmiah berbeda dengan pengetahuan sehari-hari. Pengetahuan sehari-hari ini sering disebut sebagai pengetahuan nonilmiah. Pengetahuan ilmiah dapat dikaji oleh filsafat ilmiah, sedangkan pengetahuan secara umum dikaji berdasarkan epistemologi. Filsafat ilmiah mendasari kajian keilmuan secara ilmiah berdasarkan metodologi dan kebenaran ilmiah. Namun, filsafat ilmu pengatahuan dan epistemologi tidak dapat dilepaskan satu sama lain (Adian, 2002:18).
Untuk mengetahui ciri pengetahuan ilmiah terlebih dahulu kita harus mengenal pengetahuan nonilmiah. Pengetahun nonilmiah merupakan suatu gelaja yang ada sebagai pengalaman yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah dan logis. Pengetahuan nonilmiah merupakan suatu tradisi atau budaya suatu masyarakat yang dianut secara turun temurun, sehingga eksistensinya tidak dapat dijelaskan berdasarkan metodologi ilmiah.
Dalam menguji keabsahan pengetahuan diperlukan keselarasan antara argumen dengan dunia luar (empiris-induktif), keselarasan antarpernyataan logis (formal-deduktif), keselarasan instrumental atau kebermanfaatan (fungsional). Berdasarkan hal tersebut akan dihasilkan ilmu-ilmu empiris, abstrak, dan terapan (Adian, 2002:19). Kebenaran ilmu pengetahuan dapat ditunjukkan oleh kebenaran teori dengan empiri berdasarkan metodologi ilmiah. Keandalan deskripsi ilmu pengetahuan tampak dari cara kerja ilmiah yang mengarah pada perkembangan ilmu pengetahuan.
Pada hakikatnya pengetahuan ilmiah selalu berkembang. Perkembangannya akan sangat terasa ketika kita menyaksikan perkembangan teknologi sebagai hasil dari perkembangan ilmu. Berbagai hasil temuan baru dalam ilmu pengetahuan akan berdampak pada penerapan ilmu pengetahuan tersebut.
Perkembangan ilmu pengetahuan itu terjadi apabila terdapat anomali dari suatu teori atau terdapat ketidakselarasan dengan empiri. Dari hal tersebut akan terjadi krisis kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan yang kemudian akan muncul paradigma baru (Kuhn, 2000). Sementara itu, dari perspektif lain dinyatakan bahwa perkembangan ilmu itu berdasarkan pada ketidakmampuan ilmu pengetahuan tersebut dalam mengeliminasi keterbatasan-keterbatasannya sehingga muncul suatu teori tentatif baru (Popper dalam Hoover, 1990).
Berdasarkan kedua pandangan tersebut, dalam perspektif sederhana bahwa berbagai kajian dalam suatu penelitian itu pada dasarnya dimasudkan untuk menciptakan perkembangan ilmu pengetahuan. Ketika seseorang melakukan penelitian, tentu saja bertolak dari suatu permasalahan yang belum dapat diselesaikan secara teoretis dan praktis oleh ilmu pengetahuan yang ada. Prosedur dan hasil penelitian yang dilakukan dalam rangka mengatasi masalah tersebut harus dapat dideskripsikan dalam bentuk laporan hasil penelitian. Dari laporan itulah, pembaca dapat memahami atau mengakui keabsahan dan keselarasan kajian ilmiah yang dilakukan.Laporan kegiatan penelitian itu disajikan dalam bentuk karangan ilmiah. Bentuk karangan ilmiah yang berhubungan dengan penyelesaian studi dapat berupa makalah, skripsi, tesis, atau disertasi. Laporan studi sebagaimana bentuk-bentuk karangan tersebut pada dasarnya berkonstribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan. Untuk dapat meningkatkan kepercayaan sidang pembaca terhadap keabsahan dari temuan penelitian ilmiah sangat diperlukan sajian perkembangan ilmu tersebut berdasarkan karakteristik penyajian karangan ilmiah. Demikian pula dalam menyodorkan laporan penelitian itu seharusnya dikemas dalam suatu karangan yang memenuhi kriteria struktur sebuah karangan ilmiah dan bahasa yang memiliki ciri-ciri sebagai bahasa ilmiah.
(Bersambung)

0 komentar: